.:: rendezvous of soul ::.

Quran of the day:


May 31, 2006

Memberi, Bukan Menerima

Filed under: TauSyiaH - Arief Basuki @ 11:36 am

Kita harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Suatu ketika sepasang suami istri yang baru dikarunia seorang anak terlibat percakapan. Sang istri berkata, "Abi, alhamdulillah ya Allah mengabulkan doa kita. Sekarang kita sudah punya rumah sendiri, padahal sebelumnya Ummi sempat bertanya-tanya bisa nggak ya kita punya rumah?". "Ya, kita harus bersyukur. Hidup kita selalu dimudahkan Allah," ujar sang suami mengamini. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi ingat bahwa rumah ini bukan milik kita, juga bukan milik anak kita. Semua ini hanyalah titipan Allah".

"Ya, saya ngerti. Tapi apa maksud Abi bahwa rumah ini bukan milik anak kita? Bukankah nanti akan diwariskan pada anak-anak kita?" tanya istri tersebut. Suami itu menjawab, "Abi sangat tidak setuju bila kamu berpikiran seperti itu. Abi ingin rumah ini nanti dimiliki oleh mereka yang membutuhkan, anak-anak yatim atau orang yang tidak punya lainnya". Dengan terkejut si istri menyela, "Lho, kok bisa begitu. Bagaimana dengan anak-anak kita?".

"Begini Ummi, kita harus menanamkan sikap mandiri dan mau berbagi kepada anak kita. Kalau dari sekarang kita sudah memanjakannya atau menjanjikan bahwa kalau sudah dewasa ia tak perlu susah-susah bikin rumah karena akan dapat "warisan", maka ia tidak akan mau bekerja keras apalagi berbagi. Kita harus menanamkan kepada dia bahwa rumah ini adalah milik umat, dia tidak berhak memilikinya. Karena itu, dia harus kaya, harus mampu membangun rumah sendiri, syukur-syukur mampu membangunkan rumah bagi orang lain. Sekali-kali jangan kita tanamkan kebiasaan meminta, tapi tanamkanlah kebiasaan memberi," ungkap si Abi dengan bersemangat.

Ada satu pelajaran penting dari kisah di atas, kita — terutama yang telah berkeluarga — harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan yang sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Paradigma berpikir seperti ini harus mulai kita tanamkan, baik dalam diri sendiri, pasangan hidup, maupun anak-anak. Ya, memberi — apalagi bila dilandasi keikhlasan — adalah perilaku yang teramat mulia. Bahkan, Rasulullah SAW memberi julukan "khairunnaas; manusia terbaik" kepada orang yang selalu memberi dan tak pernah menjadi beban bagi orang lain. Beliau bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain".

Konsekuensi dari paradigma ini adalah "sebelum kita dapat memberi, kita harus memiliki sesuatu untuk diberikan, dan untuk dapat memiliki sesuatu itu, kita harus mengusahakannya". Jadi ada rangkaian turunan dari paradigma memberi ini. Kita sulit untuk bersedekah (uang) bila kita tidak memiliki uang untuk disedekahkan. Untuk mendapatkan uang kita harus mengusahakannya. Kita pun sulit membagikan ilmu kepada banyak orang, bila kita tidak memiliki ilmu tersebut. Ilmu itu sendiri akan kita dapatkan bila kita mau berikhtiar mencarinya.

Demikianlah, saat kita menginginkan anak-anak kita menjadi manusia terbaik, yang lebih suka memberi daripada menerima, maka kita (orang tua) harus mengisi jiwanya dengan benih-benih kebaikan. Diharapkan benih-benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya bisa dinikmati banyak orang. Ketika orang tua menginginkan anaknya mampu beramal dengan ilmunya, maka orang tua harus menanamkan cinta ilmu kepadanya. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi seorang dermawan, maka bentuklah mereka sebagai seorang yang "pandai" mencari uang dan tidak pelit. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi penyebar kebaikan, maka isilah jiwanya dengan akhlak mulia.

Sekali lagi, semua ini tidak akan pernah mengena sebelum orang tua mengisi jiwanya terlebih dulu dengan nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain harus ada teladan, baik dalam pola pikir maupun dalam tindakan. Teladan ini teramat penting dalam keluarga, karena orang tua adalah model pertama dan utama bagi anak. Ketika Albert Schweitzer ditanya tentang bagaimana mengembangkan anak, dia menjawab: "Ada tiga prinsip. Pertama teladan. Kedua teladan. Dan ketiga teladan".

Sumber:  http://www.republika.co.id

May 29, 2006

Ujian atau Azab Allah…

Filed under: TauSyiaH - Arief Basuki @ 3:49 am

Segala sesuatu dalam kehidupan ini selalu berpasangan. Di satu sisi ada orang yang bergelut dengan kemiskinan, tapi di sisi lain ada golongan yang hidup dalam kelebihan harta. Ada pula orang-orang yang hidupnya selalu diliputi dengan keberkahan dan kasih sayang Allah, namun di sisi lain ada orang-orang yang selalu hidup dalam kemurkaan dan dibenci Allah.

Orang-orang yang hidup dalam kebencian Allah pada dasarnya disebabkan oleh perilaku mereka yang mengundang kemurkaan Allah. Rasulullah menjelaskan, ‘’Empat macam orang yang dibenci Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang sombong, orang yang sudah tua suka melacur, dan pemimpin yang durhaka.'’ (HR Nasa’i dari Abu Hurairah).

Pertama, penjual yang suka bersumpah. 
 
Kelompok ini adalah para penjual yang sering bersumpah palsu dengan harapan agar mampu melariskan atau meningkatkan omset penjualan yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan. Prilaku ini, sangat sering dilakukan oleh kita yang bergerak dibidang marketing, marketing produk apa saja, agar laku keras, maka melakukan sumpah penipuan produk. Rasulullah telah memperingatkan berkaitan dengan perilaku ini, beliau bersabda, ‘’Bersumpah untuk melariskan barang dagangannya adalah merusak keberkahan dan keuntungan.'’ (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, orang miskin yang sombong. 
 
Kelompok ini adalah orang miskin secara kehidupan, tetapi ia tidak mau berdoa kepada Allah, tidak berusaha, dan bahkan malah bergaya seperti orang kaya serta sombong kepada sesamanya. Agar terlihat keren kehidupannya, maka hidup lebih besar pasak daripada tiang dan bahkan terlalu banyak pasak tanpa tiang. Intinya, sudah tidak berpenghasilan, gaya lagi. Hidup terlilit hutang karena prilakunya sendiri.
 
Berkaitan dengan sifat sombong, Allah memperingatkan, ‘’Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.'’ (QS 17: 37). 
 
Dalam ayat lainnya Allah menegaskan, ‘’Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.'’ (QS 31: 18). 
 
Ketiga, orang yang sudah tua tetapi suka melacur. 
 
Banyak diantara kita, karena ekonomi semakin mapan, kadang-kadang terjebak oleh prilaku ingin berzinah kepada yang lebih muda dan cantik. Begitu juga, banyak wanita muda karena ingin menambah penghasilan berlimpah, merelakan diri untuk berzinah. Rumus pokoknya adalah laki-laki tertarik pada yang cantik dan wanita lebih tertarik kepada yang berharta. 
 
Keempat, pemimpin yang durhaka. 
 
Kita semua adalah pemimpin, hanya berbeda tempat dan sektornya. Pemimpin yang durhaka adalah pemimpin yang memanfaatkan wewenang dan jabatannya untuk menekan dan tidak memberi kesempatan kepada yang dipimpin semakin maju, bahkan memperkaya diri sendiri juga kelompoknya.

Ujian atau azab

Adanya kejadian di tanah air kita beberapa tahun ini seperti bencana Tsunami di Aceh, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, wabah penyakit dan yang terakhir adalah gempa bumi di Yogyakarta apakah merupakan ujian atau kah azab dari Allah SWT karena bangsa kita yang berpenduduk beragama Islam terbesar di dunia sebagian besar termasuk kategori di atas?. Semoga setiap kejadian yang diberikan Allah dapat membuat lebih baik diri kita dan semoga ini semua hanya merupakan ujian dan peringatan yang diberikan Allah SWT, bukan azab……. Wallahu a’lam.

    next posts »»

Hadith of the day:

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King