.:: rendezvous of soul ::.

Quran of the day:


May 18, 2006

Persamaan Helmholtz Pecah di Tangan Dosen ITB

Filed under: NewS - Arief Basuki @ 4:39 am

Persamaan matematika Helmholtz sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi.

Dulu, BJ Habibie menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini,termasuk NASA di Amerika.

Kini, Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset PhD-nya, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember 2005 lalu. Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak satu abad silam.

Media Barat menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia adalah pria kelahiran Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), dan saat itu sedang menempuh program PhD di Delft University of Technology (DUT).

Keberhasilan itu memuluskan jalan bagi perusahaan perminyakan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya lebih rendah. Selama ini, industri perminyakan sangat membutuhkan pemecahan rumus Helmholtz itu agar bisa lebih cepat dan efisien dalam melakukan pencarian minyak bumi. Setelah Yogi memecahkan persamaan Helmholtz yang selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak — bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Tak cuma itu, dari kebutuhan hardware pun, industri minyak bisa mereduksi sekitar 60 persen dari hardware yang biasanya. Sebagai contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000 komputer, dengan dipecahkannya rumus Helmholtz oleh Yogi, bisa diselesaikan hanya dengan 300 komputer.

Yogi mengungkapkan, penelitian mengenai persamaan Helmholtz ini dimulai pada Desember 2001 silam dengan mengajukan diri untuk melakukan riset di DUT. Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell datang ke DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara matematika numerik yang cepat atau disebut robust (bisa dipakai di semua masalah).

Selama ini, ungkap Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus Helmholtz dalam menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz yang digunakan oleh perusahaan minyak Belanda itu membutuhkan biaya tinggi, tak cuma dari perhitungan waktu tetapi juga penggunaan komputer serta memori.

‘’Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali. Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware,'’ ungkap Yogi kepada Republika.

Karena itu, sambung pria yang lulus dengan nilai cum laude saat menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan penelitian yang mengarah pada persamaan Helmholtz agar bisa lebih efisien, cepat, dan kebutuhan hardware yang cukup kecil. Untuk proyek penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian Belanda.

Yogi yang memiliki hobi memasak, melukis, dan olah raga itu, memecahkan rumus Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang membuat penelitian itu lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz dalam matematika numerik yaitu matematika yang bisa diolah dengan menggunakan komputer.

Karena itu, dalam melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan yang masing-masing tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik yaitu secara langsung (direct) dan literasi. ‘’Banyak pakar yang menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang sulit,'’ kata pria kelahiran
Tasikmalaya 32 tahun silam ini.

Pakar terakhir yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan Prof Turkel, berasal dari Swiss dan Israel, masing-masing dengan caranya sendiri. Teori dari kedua pakar itulah yang kemudian dianalisisnya beberapa waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan dijadikan metode yang cukup cepat.

‘’Saya punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya pecahkan dengan metode direct atau literasi,'’ ujarnya.

Metode langsung, papar Yogi, bila dalam perjalanannya kemudian menemukan masalah yang besar maka akan mahal dari segi waktu dan biaya. Namun metode literasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata dia, yang pasti, dengan metode literasi selalu murah dari segi hardware.

‘’Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan literasi tapi kalau dinaikkan frekuensinya, jadi sulit untuk dipecahkan,'’ ujarnya. Yogi memaparkan, untuk mengetahui struktur daerah cekung, misalnya, yang dilakukan adalah meneliti daerah akustik dan kemudian dipantulkan gelombangnya dengan frekuensi tertentu. Pantulan tersebut kemudian direkam. Setelah itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz, lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.

Yang kemudian menjadi persoalan, ungkap dia, ketika frekuensi dinaikkan, persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan. Ia memberikan contoh, Shell hanya bisa menyelesaikan persamaan Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz. ‘’Ketika dinaikkan menjadi 30 Hz, mereka tak bisa,'’
katanya.

Kemudian, Yogi memperoleh metode robust yang memungkinkan persamaan Helmholtz untuk dipecahkan dengan frekuensi berapa pun. ‘’Kita sudah melakukan tes 300 Hz tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun sudah cukup untuk pemetaan,'’ ujar penggemar matematika ini.

Tak cuma untuk temukan sumber minyak

Menurut Yogi, selain untuk menemukan sumber-sumber minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan gelombang. Persamaan ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku gelombang secara umum. Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data dalam blue ray
disc
(keping DVD super yang bisa memuat puluhan gigabyte data), dan aplikasi pada laser.

Mengenai kelanjutan dari penemuannya itu, Yogi mengatakan, karena penelitian ini dilakukan oleh perguruan tinggi, maka persamaan Helmholtz ini menjadi milik publik. ‘’Biarpun dibiayai oleh Shell, tapi yang melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik publik,'’ katanya.

Ia tidak mematenkan rumus temuannya itu. Apalagi, sambung dia, produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan. ‘’PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari minyak bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu, tapi karena ada keperluan, tidak hadir. Memang ada yang mengatakan kalau PT Pertamina tertarik dengan temuan saya, cuma masalahnya Pertamina memiliki software-nya atau tidak,'’ ujar pria yang tak suka publikasi ini.

Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah dipresentasikan di banyak negara di dunia. Yaitu, saat intermediate progress selama Desember 2001 hingga Desember 2005. Buku mengenai persamaan Helmholtz yang dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris manis.

‘’Tinggal satu (buku) dan saya tak punya fotokopinya lagi,'’ ujar dosen yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel. Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu masih bisa dikembangkan lagi. Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi pada postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu selama dua tahun sejak
1 Mei 2006.

Terobsesi Memajukan Indonesia

Setelah menjadi terkenal di dunia matematika karena berhasil memecahkan rumus Helmholtz yang dikenal sangat sulit, dosen Teknik Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum tercapai. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad Isis dan Euis Aryati ini,
obsesi yang belum tercapai adalah ingin melihat bangsa Indonesia maju.

Karena, kata dia, saat ini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan India. Padahal, Indonesia dan India sama-sama sebagai negara berkembang dan banyak masyarakatnya yang miskin. ‘’Meskipun miskin, tapi India sekarang bisa menjadi pusat informasi teknologi (IT) di dunia. Saya ingin Indonesia
seperti India, kemiskinan bukan berarti tidak bisa berkembang,'’ ujar Yogi kepada Republika. Khusus untuk ITB, sambung pria kalem kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.

Minimal, ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau hanya terbesar di Indonesia saja, sejak dulu juga begitu. Bahkan, sambung dia, pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar. ‘’Saya pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin melakukan penelitian tentang
pesawat terbang, perminyakan, dan biomekanik,'’ kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch Chamber of Commerce itu.

May 15, 2006

Besarnya Pengaruh Orang Dewasa Pada Anak

Filed under: NewS - Arief Basuki @ 10:19 am

Seorang anak bergantung pada siapa ia dibesarkan. Jika orang tuanya yang membesarkannya, maka pengaruh kedua orang tuanyalah yang tampak. Begitu juga kalau ia banyak dibesarkan oleh kakek atau pamannya, maka kedua orang inilah yang berpengaruh besar dalam kehidupannya lebih lanjut.
Diriwayatkan dalam sebuah Hadis bahwa seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Berkat orang tuanyalah ia diarahkan menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi.

Begitu besarnya pengaruh orang yang lebih tua pada kehidupan anak-anak menggambarkan bahwa kendali kehidupan justru banyak dipegang oleh orang dewasa. Anak, dengan fitrahnya, mudah diarahkan ke mana saja, tergantung siapa yang mempengaruhinya. Jika dominasi media, seperti sekarang ini, lebih banyak disaksikan oleh anak, maka bisa jadi yang dominan tak lain dari media itu, bukan lagi orang tua.

Oleh sebab itu, tampak saat ini bermunculan kegelisahan-kegelisahan para orang tua terhadap media cetak maupun elektronik. Para orang tua ini menyebutkan bahkan karena medialah anak-anak mereka berubah. Pergeseran pengaruh mulai terasa.

Tetapi, berbicara soal pengaruh, secara tradisional, tetap saja orang dewasalah (baca: orang yang lebih tua - dilihat dari faktor umur) yang memberikan pengaruh besar pada anak-anak. Lihat saja, misalkan, kakak-adik.

Dalam hubungan keseharian, sang kakak yang terlihat dominan dibanding sang adik. Lebih luas lagi, di atas mereka, orang tua yang dominan, entah itu bapaknya atau ibunya. Dalam level yang lebih luas, di sekolah, contohnya, para guru; di lingkungan pergaulan, teman-temannya; di lingkungan media, bisa cetak maupun (yang begitu dominan) elektronik - terutama televisi.

Di lingkungan sekolah, jelas, para guru yang menanamkan pengaruh. Di lingkungan pergaulan, teman-temannya yang lebih tua yang menanamkan
pengaruh. Apalagi di media. Namun, sekali lagi, dari orang yang lebih tualah tertanam pengaruh pada diri anak.

Pengaruh media, misalnya, siapakah para pembuat program-program televisi kalau bukan orang dewasa. Seorang anak, entah ia balita, tingkat sekolah dasar (SD), atau sekolah menengah pertama (SMP) belum tentu tahu itu semua dikerjakan oleh orang yang lebih tua darinya.

Ambil contoh para pengajar di taman kanak-kanak. Yang mengajari dunia anak memang orang dewasa, tetapi para pengajarnya telah dibekali bagaimana "menggiring" anak agar cerdas terutama dalam tingkah polahnya.
Demikian pula saat mereka memasuki masa remaja, masa puber, yaitu masa melepas keremajaan ke arah kedewasaan. Perkenalan memasuki masa dewasa inilah yang menyebabkan para remaja terkadang latah meniru seniornya. Siapa seniornya itu? Tak lebih, ya orang dewasa tadi.

Orang tua atau sebutlah orang dewasa adalah teladan (baik langsung maupun tidak) dari junior-juniornya. Kalau sekarang, misalnya (mudah-mudahan tidak, na`udzubillahi min dzaliq), orang yang lebih tua memperlihatkan bagaimana korupnya mereka, mengapa tidak di kemudian hari para penerusnya meneruskan jejak langkah para orang tua ini.

Kalau kemudian, para orang tua, yang mengelola negeri ini memperlihatkan ketidakbecusan mereka, ketidaktegasan mereka, atau betapa melempemnya mereka, bisa dibayangkan bagaimana generasi berikutnya?
Dalam satu kesempatan majelis taklim ada seorang ibu bertanya kepada ustadznya.

Katanya, "Ustadz, baru kali ini saya merasakan bagaimana sebuah ejekan berbalik kepada saya sendiri. Dan, sedihnya lagi, ejekan itu justru dibalikkan oleh anak saya sendiri. Kata saya waktu itu dengan nada kasar, ‘Sialan kamu anak monyet.’ Lalu, anak saya memberikan jawaban, ‘Ibu apalagi, ibu monyet!’" Tampaknya kita perlu belajar dari perlakuan generasi-generasi di bawah kita. Kalau apa yang mereka alami saat ini bisa jadi buah dari contoh nyata perbuatan kita juga.

Banyak Memberi

Pokoknya, kalau ingin nikmat dalam hidup ini, jangan banyak berharap. Gelas yang kosong, selalu ingin diisi. Orang yang kosong dari harga diri, selalu ingin dihargai. Mata air yang melimpah, bisa mengisi. Orang yang melimpah harga dirinya, bisa menghargai orang lain. Jangan senang kalau diberi, tapi senanglah kalau kita bisa memberi. Kemuliaan itu bukan karena sering diberi, tapi karena banyak memberi. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

"Hargai dong saya!" Berarti belum ada harganya.
"Hargai ibu, saya ini kan guru kalian!" Sama, ibu guru juga belum punya harga, nyatanya ingin dihargai. Ah, capek kalau ingin dihargai itu. Aa pakai sorban begini juga belum tentu dihargai. Ada yang mengatakan, "Eh, itu ustadz kepalanya retak ya?" Disangkanya perban padahal sorban.

Ada lagi yang bilang, "Ini Kiai Ageng keturunan Pangeran Diponorogo."
Salah lagi, harusnya Diponegoro. Biarin sajalah. Ngapain kita capek sakit hati. Kalau ada yang menghina, "Eh, ternyata kamu bodoh!"
Jawab saja, "Hai, baru tahu ya! Saya sudah lama tahu kalau saya bodoh!"

Pegang ini baik-baik, kita tak bisa sukses dengan menuntut orang lain, tapi kita bisa sukses dengan menuntut diri. Makin ingin dihargai, dipuji, dihormati, makin sering sakit hati. Makin senang meminta-minta, makin hina. Kita harus benar-benar membalik pikiran kita, dari ingin dihargai menjadi ingin menghargai, dari ingin diberi menjadi ingin memberi. Wallahu a`lam bishshawaab.

Sumber: www.republika.co.id 

«« previous posts    next posts »»

Hadith of the day:

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King