.:: rendezvous of soul ::.

Quran of the day:


December 29, 2006

“Ibu, Ayah, Kenapa Allah Menyuruh Nabi Ibrahim Membunuh Anaknya?”

Filed under: NewS, ArTIkeL, TahuKah AndA? - Arief Basuki @ 10:47 am

Banyak anak yang akan bertanya demikian selama Hari Raya Qurban atau ‘Iedul Adha. Bagaimana kita (para orang tua) menjawabnya?

Memotong leher hewan untuk menirukan keputusan seorang ayah yang “ribuan tahun lalu” di mana perintah memotong leher seorang ayah pada anaknya sendiri, kedengarannya ‘gila’ di zaman Harry Potter, Manchester United, dan Play Station 3 ini. Anak-anak zaman sekarang selalu lebih kritis pada ajaran Islam. Itu bagus. Setidaknya supaya orang tuanya belajar terus.

Ada orang tua yang tidak peduli pada pertanyaan-pertanyaan anaknya tentang agama atau tentang seks, atau berusaha mengalihkan perhatian mereka kepada hal lain. Ada juga yang bilang kepada anaknya, bahwa belum waktunya mereka menanyakan ‘hal-hal serius’ semacam itu. Sikap-sikap demikian hanya akan menambah rasa penasaran anak dan bisa mendorong mereka mencari jawaban dari sumber-sumber yang justru mungkin berbahaya. Lebih parah lagi, dalam jangka panjang, pelan-pelan anak-anak itu akan berhenti mengandalkan orang tuanya untuk pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup mereka.

Ada juga orang tua yang beranggapan kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam itu ‘mengerikan’ dan berusaha membuat kisah versinya sendiri –yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada juga orang tua yang bukannya mendorong anak untuk tetap bersikap kritis, malah bilang agar anaknya ‘percaya saja’. Langkah ini akan menjadikan anak rentan terhadap manipulasi pemikiran yang sesat dan menyesatkan.

Ketika anak-anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang iman, ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum kita terburu-buru menjawab. Pertama, sikap kita dalam menjawab pertanyaan itu; kedua, materi jawaban kita yang terbaik dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan ALLAH.

Untuk pertanyaan tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS, kita harus memulai dengan kisah itu sendiri. Kita yakin, seluruh kisah hidup Nabi Ibrahim didesain, dibimbing, dipelihara dan disebarluaskan oleh ALLAH lewat para rasul-Nya. Kita yakin fakta-fakta paling akurat tentang kisah hidup beliau hanya berasal dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Maka langkah pertama untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan, berwudhu, mengambil Al-Qur’an dan membacanya.

Langkah kedua, mulailah pembicaraan dengan anak-anak dengan mengucapkan, “BismillaahirRahmaanirRahiim, dengan nama ALLAH yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Mintalah ALLAH membimbing hati, pikiran, dan lidah Anda untuk memberikan jawaban yang benar.

Ketiga, lanjutkan dengan membacakan ayat Al-Qur’an. Bacakan ayat-ayat di bawah ini secara tartil, penuh kasih sayang, dan bacakan juga terjemahannya.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad: 31)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (An-Nahl: 120)

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.”(Asy-Syuara’: 69)

Kemudian, bacakan bagian Al-Qur’an yang memuat detil peristiwa dramatis Qurban itu dalam surat Ash Shaaffat ayat 100-111.

Keempat, jelaskan kepada anak Anda, bahwa sebelum yang ini, Nabi Ibrahim telah lulus melewati beberapa ujian berat lain. Ketika ia masih remaja, ia lulus ujian untuk menetapkan logika dan keyakinannya tentang Tuhan yang benar. Ia juga berhasil istiqamah pada "aqidah tauhid saat bertentangan dengan ayahnya yang musyrik. Ia lulus ujian ketika berhadapan dengan Raja Namruj yang berlagak tuhan, yang gagal membakarnya sampai mati. Ia juga berhasil menyelesaikan tugas untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail “yang puluhan tahun ditunggu kelahirannya” di padang pasir dan batu yang kemudian bernama Makkah.

Ada orang tua Muslim menjawab sambil lalu. “Oh, itu maksud ALLAH hanya untuk menguji Nabi Ibrahim, Sayang!” sambil meneruskan baca majalah atau mengunyah sarapan. Mungkin jawaban itu akan memuaskan anak orang tua, tapi jelas bukan jawaban terbaik yang bisa kita berikan.

Kelima, penting sekali untuk meresapkan ketaatan yang tulus, yang keluar dari jiwa murni Nabi Ibrahim, kepada anak-anak kita. Kita semua tahu akhir cerita yang melegakan nafas itu, tapi cobalah letakkan diri kita pada posisi beliau. Ia sama sekali tak tahu, bahwa leher anaknya akhirnya akan diganti dengan leher domba. Ismail, juga sama sekali tidak berharap apa-apa tentang skenario ALLAH. Anak baru gede itu sepenuhnya yakin saja, bahwa perintah ALLAH adalah kebaikan belaka bagi dirinya.

Keenam, berserah diri kepada ALLAH untuk menyelesaikan sisanya.

Ini kesempatan besar bagi Anda, untuk menjelaskan kepada anak-anak, tentang makna “kebebasan hidup” yang sesungguhnya. Hidup yang sepenuhnya bebas dari dominasi siapapun, kecuali dari dominasi Kekuasaan yang Maha Tak Terbatas.* (Dzikrullah, www.hidayatullah.com)

December 21, 2006

Api Hijaz dan Lumpur Sidoarjo

Filed under: ArTIkeL, TauSyiaH, TahuKah AndA? - Arief Basuki @ 10:24 am

Tak satupun pakar gelologi tahu kapan lumpur Lapindo berhenti. Toh, kita semua tak pernah mengambil pelajaran berharga darinya

Catatan Sejarah kota Madinah: Selasa, malam Rabu, 3 Jumadil Akhir 654 Hijriyah. Enam abad lebih sesudah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam wafat. Dini hari sudah menjelang habis, tapi subuh masih agak jauh, ketika warga kota Madinah dibangunkan dari tidurnya karena ada suara menggelegar, yang disusul terjadinya gempa besar mengguncangkan tanah, dinding, atap, kayu, dan pintu. Kejadian itu berlangsung selama 3 hari berturut-turut sampai hari Jumat tanggal 5 bulan tersebut.

Kemudian muncul api raksasa di Harrah dekat Quraizah, di pinggiran Madinah. Orang-orang yang tinggal di pusat kota bisa melihat api yang mengamuk itu dari rumahnya, seakan ada di samping mereka, karena begitu dekatnya. Lidah apinya lebih besar dari tiga buah menara. Api itu kemudian dilaporkan mengalir ke wadi (oase) Syahza seperti air yang mengalir di sungai, dan akhirnya api itu menghentikan aliran air di wadi Syahza sehingga tidak mengalir lagi.

Sesudah api menyebar tiba-tiba gunung-gunung batu di sekitar Madinah berubah menjadi lautan api, sehingga menutup Herat yang merupakan jalur haji dari arah Iraq. Api itu terus merambat sampai ke Herat dan berhenti, lalu api itu kembali menjalar ke arah timur. Dari tengah-tengah api muncul bukit-bukit api yang melahap batu-batu.

Seorang ‘alim Madinah pada masa itu, Abu Syamah, atau nama lengkapnya Imam al-‘Allamah al-Hafizh Syihab ad-Din Abu Syamah al-Maqdisi menulis sebuah catatan yang dua abad kemudian dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah:

“..dari api itu muncul oase api seluas 12 mil, panjang 4 mil, dan  dalamnya 1,5 kaki. Api itu menjalar di muka bumi dan memunculkan  bukit-bukit kecil, dan merambat di permukaan tanah sehingga batu-batu  meleleh..”

Abu Syamah menutup catatannya yang sangat panjang dengan kalimat ini..

“..Ada keanehan-keanehan yang tak dapat saya jelaskan kepadamu secara  detil. Matahari dan bulan mengalami gerhana sampai sekarang. Saat surat  ini ditulis, api sudah terus menyala selama sebulan, dan tetap di  tempatnya, tidak maju, tidak mundur…”

Sahabat Abu Syamah, seorang hakim di Madinah yang juga hidup di masa itu, memiliki catatannya sendiri tentang peristiwa dahsyat itu. Beliau bernama Syeikh Syams ad-Din ibn Sinan ibn Abd al-Wahhab ibn Namilah al-Husaini. Begini catatan beliau:

“Aku pergi menemui Emir (walikota) Madinah dan berkata kepadanya,  “Kita telah dikepung azab. Kembalilah kepada ALLAH! Bebaskan semua  milik-milik-Nya dan kembalikan harta-harta mereka!” Ketika Emir  melakukan hal itu, aku berseru, “Turunlah bersama kami saat ini ke  (makam) Nabi SAW!” Lalu ia turun dan kami bermalam pada malam  Sabtu bersama semua pria, wanita, dan anak-anak. Tak seorangpun di  desa atau di Madinah kecuali berada di samping Nabi SAW. Kemudian api  merambat sampai ke lembah Ajilain dan menutup jalan…

Surat ini dibuat pada tanggal 5 Rajab (sebulan lebih 2 hari sejak api itu  muncul)..”

Catatan lain yang dipetik Abu Syamah berasal dari seorang tokoh Bani al-Kasyani, suatu kabilah di Madinah. Mereka menulis:

“.. Orang-orang berdatangan ke Masjid Nabawi. Mereka berkumpul  semuanya dan berpasrah diri kepada ALLAH… Pada saat itu orang-orang  sudah yakin akan turunnya azab. Pada malam itu manusia semuanya  shalat, membaca Al-Qur’an, ruku’ dan sujud, berdoa kepada ALLAH,  menyesali dosa-dosanya, beristighfar dan bertaubat..”

Seorang ‘alim di Basrah, Syam, bernama Shadr ad-Din Ali ibn Abu al-Qasim at-Tamimi al-Hanafi, ketika peristiwa besar ini terjadi baru berusia 12 tahun. Kelak ia menjadi ‘alim terkemuka di Damaskus. Ia menulis, “Aku mendengar seorang badui memberitakan kepada ayahku di Basrah pada malam-malam tersebut, bahwa mereka melihat punuk-punuk unta yang terkena cahaya api yang muncul di tanah Hijaz.”

Banyak ulama di masa itu dan sesudahnya berkesimpulan, bahwa api raksasa yang muncul di Hijaz begitu besarnya sampai menerangi punuk-punuk unta di Basrah, yang jaraknya sekitar 2 bulan perjalanan dengan unta, adalah salah satu kebenaran kabar yang pernah disampaikan Rasulullah SAW.

Shahabat beliau Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Kiamat tidak akan terjadi sampai keluar api dari tanah Hijaz, menerangi punuk-punuk unta di Basrah.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

“Umar Sulayman al-Asyqar, seorang ‘alim yang hingga kini masih aktif mengajar dan produktif menulis di Damaskus, memasukkan “Api Hijaz”  sebagai salah satu dari empat tanda kiamat yang sudah terjadi dan tidak akan terulang lagi (Keempat tanda itu: diutus dan wafatnya Rasulullah SAW.; terbelahnya bulan; api di Hijaz yang menerangi punuk-punuk unta di Basrah, dan; terhapusnya jizyah atau pajak untuk orang kafir dzimmi, yang tidak memerangi Islam).

Sekarang kita beralih ke Sidoarjo. Enam bulan yang lalu, tepatnya 29 Mei 2006, sebuah sumur gas yang sedang dieksplorasi di kecamatan Porong, menyemburkan lumpur panas-beracun. “Judulnya rakus,” kata seorang ahli perminyakan, mengomentari kelakuan PT Lapindo Brantas yang sudah tahu ada lapisan lumpur masif tapi memaksakan alatnya hendak menjangkau kandungan gas ratusan meter di bawah lumpur. Sekitar 1500 warga desa Renokenongo segera dievakuasi karena lumpur itu membanjiri rumah dan tanah mereka. Dalam jangka waktu 12 hari jalan tol paling vital di Jawa Timur, kilometer 8 ruas Gempol-Sidoarjo yang merupakan jalur utama pengangkutan barang dari kawasan Selatan menuju pelabuhan Tanjung Perak ditutup karena diluberi lumpur. Pada akhir bulan Juni 2006 warga yang terpaksa mengungsi sudah berjumlah 6138 jiwa. Sesudah itu, tanggul demi tanggul yang dibuat untuk menahan luapan lumpur jebol. Puncaknya pekan lalu, tanggul yang menahan lumpur agar tak luber lagi ke jalan tol jebol lagi. Bahkan, pipa gas pertamina yang ada di sisi jalan tol patah dan meledak dahsyat. Belasan orang, baik petugas maupun pengguna jalan tol, tewas. Sebagian tenggelam oleh ‘tsunami’ lumpur.

Tim gabungan ITB, UGM, dan ITS (pusat-pusat kehebatan teknologi manusia Indonesia) bulan Agustus lalu menyimpulkan, lumpur itu berasal dari pegunungan lumpur (mud mountain) yang ada di bawah Porong. Pegunungan itu lebarnya 20 km dan panjangnya 200 km. Puncak pegunungan lumpur itu berkisar antara 600-1000 meter di bawah permukaan tanah Porong. Tidak ada profesor geologi manapun di Indonesia yang tahu kapan lumpur itu akan berhenti menyembur. Pertama kali menyembur, lumpur itu keluar 5000 meter kubik per hari. Pada akhir tahun ini, diperkirakan volume banjir lumpur akan melebihi 10 juta meter kubik. Dua kali lebih banyak dari volume kubah lava puncak Merapi. Kabarnya juga, setelah diteliti, usia lumpur panas dan beracun itu lebih tua daripada usia pulau Jawa yang sudah jutaan tahun. Hebatnya lagi, ternyata pegunungan lumpur seperti di Porong, Sidoarjo ini masih terdapat di 6 titik lain lagi yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Jawa Timur pelan-pelan melemah, mungkin akan lumpuh. Porong akan tenggelam, mungkin akan amblas. Sidarjo dilanda kecemasan.

Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, kabarnya sudah berkali-kali menolak dukun yang menawari jasa mistik dengan bayaran tertentu untuk menghentikan lumpur panas-beracun. Beberapa orang ada yang melempar sesajen, entah untuk siapa, dengan mantra-mantra syirik ke dalam sumber lumpur.

Bagus, Bupati Hendrarso menolak kemusyrikan, tapi sayangnya, kalimat tauhid itu belum lengkap. Menolak segala bentuk ilah, seperti kepercayaan mistik dan teknologi, sudah mencapai separo kebenaran. Itu akan sepenuhnya sempurna benar jika dilanjutkan dengan, hanya meng-ilah-kan ALLAH. Kalimat Bupati Hendrarso baru sampai, “Laa ilaaha… Tidak ada ilah..” Seyogyanya disempurnakan dengan, “illaLLAAH… kecuali ALLAH..”

Bertaubat. Memenuhi dada dengan istighfar. Menghentikan semua korupsi dan penipuan terhadap rakyat. Membagikan semua kekayaan, terutama yang di luar hak kita. Membuang semua keyakinan kecuali yang bersumber dari ALLAH. Merevisi semua hukum yang berlawanan dengan tuntunan ALLAH. Mentaati semua perintah ALLAH. Menghentikan semua kemaksiatan. Merintih kepada ALLAH. Mengakui bahwa kita tak mampu apa-apa tanpa pertolongan ALLAH.

Peristiwa api Hijaz memberi pelajaran penting. Kita sudah dilibas tsunami di Aceh, Sumatera Utara, juga Pangandaran. Kita sudah digentarkan Merapi. Kita sudah dihajar gempa di Jogja-Klaten. Kita sudah digelontor banjir bandang dan longsor mengerikan di Sinjai dan Jember. Banyak lagi. Semua musibah dan azab itu spontan. Sebentar sesudahnya kita lupa dan hidup seenaknya lagi. Mungkin di mata ALLAH bangsa ini dianggap “murid SLB” yang harus diberi pelajaran agak pelan dan lama, dengan terapi khusus. Maka lumpur panas dan beracun disemburkan pelan-pelan melahap kebanggaan-kebanggaan kita, sampai kita tersungkur bersujud.

Tiada daun yang jatuh ke bumi yang kita diami ini yang di luar kendali ALLAH. Jika kita sudah enggan bersikap tawadhu dan mentaati ALLAH, silakan kita pergi dari bumi ALLAH, dan carilah tuhan selain ALLAH.

(Dzikrullah, www.hidayatullah.com)

 

    next posts »»

Hadith of the day:

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King