.:: rendezvous of soul ::.

Quran of the day:


June 4, 2007

“Allah” dalam Islam dan Kristen

Filed under: NewS, TahuKah AndA? - Arief Basuki @ 5:08 am

Oleh:

 Qosim Nursheha Dzulhadi *

 
Konsep ketuhanan yang ada dalam Yahudi dan Kristen lebih ‘membingungkan; dibanding pengertian ‘ketuhanan’ yang dimengerti dalam Islam

Bukan rahasia lagi bahwa umat Islam secara umum, dan khusus di Indonesia banyak dihadapi berbagai tantangan teologis. Dari “kristenisasi” terang-terangan hingga penggunaan istilah keagamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dialektika Islam-Kristen di Indonesia menyisakan persoalan yang perlu diungkap dan diteliti secara serius.

Beberapa tulisan para pendeta Kristen di Indonesia banyak sekali menggunakan istilah-istilah Islam yang sudah resmi dan formal digunakan sebagai istilah “ekslusif” dalam Islam. Salah satu istilah yang sudah biasa digunakan adalah lafadz “Allah”. Lafadz ini adalah murni istilah Islam, tidak bisa sembarangan digunakan, meskipun ketiga agama Semit mengklaim masih menggunakannya.

Tulisan ini akan mengulas konsep “Allah” secara umum, yang biasa dikenal dalam agama-agama Semit (Yahudi→Kristen→Islam) yang dikenal sebagai Abrahamic religions. Dan kita akan melihat bahwa Islam benar-benar satu agama yang teguh ‘melestarikan’ konsep “Allah” ini.

Konsep “Allah” dalam Islam ini diakui dengan sangat baik oleh Dr. Jerald F. Dirk dalam bukunya “Salib di Bulan Sabit” (Serambi, 2006). Mantan diaken di ‘Gereja Metodis Bersatu’ ini mencatat bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat. Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.

“El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau sang Tuhan. Ia adalah kata Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, menurutnya, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Quran dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi biblikal tertua”, kutipnya.

F. Dirk mungkin benar. Akan tetapi konsep Allah dalam Islam jauh lebih mendalam, karena bukan hanya sebagai ‘nama diri’ (proper noun). Dalam pembahasan ilmu Tauhid, konsep al-Ilah terkait erat dengan peribadatan. Oleh karenanya, dalam penjelasan “Laa ilaaha illa Allah” para ulama menjelaskan dengan “laa ma‘buda bihaqqin illa Allah”. (Tidak ada seorang tuhanpun yang berhak “diibadahi” secara benar (mutlak), kecuali hanya Allah saja).

Ini tentu berbeda dengan kata El dalam bahasa Ibrani, yang kemudian bisa menjadi El-Elohim, yang diartikan sebagai “Tuhannya para tuhan”. Berarti ada tuhan selain tuhan yang disebut El-Elohim itu. Namun dalam Islam, Allah atau Ilah hanya satu. Apalagi jika ditelusuri konsep Tuhan dalam agama Yahudi, yang banyak menyiratkan bahwa “Tuhan” Yahudi adalah ‘Tuhan nasionalistik’, atau private God bagi Yahudi. Di luar Yahudi Tuhannya berbeda.

Konsep keimanan kepada “wujud Allah” dalam Islam tidak pernah mengalami problem serius, karena konsep dasarnya sudah jelas dan fixed, tidak bisa ditawar lagi.

Imam al-Sanusi misalnya, menjelaskan bahwa tentang konsep “wujud” itu sangat jelas. Menurut mazhab Syeikh Abu al-Hasan al-Asy‘ariy, mengganggap wujud sebagai salah satu sifat merupakan satu bentuk tasamuh (toleransi). Sebab menurutnya, wujud adalah diri zat (mawjud) itu sendiri, bukan sesuatu yang lain dari zat; dan zat, jelas bukan sifat. Akan tetapi, karena dalam ucapan, wujud selalu disebut sebagai sifat zat, seperti dalam kalimat “Zat Tuhan kita Jalla wa ‘Azza adalah mawjud (ada)”, maka tidak ada salahnya kalau secara global ia dihitung sebagai salah satu sifat. Adapun menurut mazhab yang menganggap bahwa wujud itu lain dari zat, seperti imam al-Raziy, maka menghitungnya sebagai sifat adalah benar sepenuhnya, tanpa tasamuh. Ada pula yang berpendapat bahwa pada yang baharu, wujud itu lain dari zat, tetapi pada yang qadim tidak. Ini adalah mazhab para filosof. (Lihat, Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi, Syarh Umm al-Barahin (Bahasan tentang Sifat Allah yang Duapuluh), terjemah: Lahmuddin Nasution, PT. Grafindo Persada, 1999: 32). Semua pendapat ini dapat dipahami dengan jelas dan mudah.

Absurditas ‘Trinitas’

Dalam agama Kristen, konsep Allah jauh lebih problematis. Ini disebabkan adanya konsep “Trinitas” yang hingga hari ini menjadi ‘teka-teki silang’ yang tak berujung.

Seorang penulis Kristen Koptik (Qibti), Arab-Mesir, Nashrullah Zakariya menulis satu buku yang berjudul al-Tsâlûts fî al-Masîhiyyah: Tawhîd am Syirkun bi’l-Lâh? (Trinitas dalam Kristen: Monoteis atau Syirik?), menulis, jika konsep keimanan kepada Allah terjadi lewat ‘advertensi Tuhan’ (al-I‘lân al-Ilâhiy). Tanpa ini, manusia tidak bisa mengenal Allah. ‘

Menurutnya, advertensi Tuhan’ ini terjadi lewat dua cara: Pertama, ‘advertensi umum’ (al-i‘lân al-‘âm). Ini adalah advertensi yang dengannya Allah menyingkap diri-Nya lewat dua hal: (1) Alam. Tentang ini, wahyu yang kudus (al-wahyu al-muqaddas) mencatat: “Langit menyatakan, keagungan Allah dan cakrawala mewartakan karya-Nya” (Mazmur 19: 1-2); dan (2), sejarah. Maksud dari sejarah adalah: berbagai interaksi Allah dengan manusia lewat pengalaman historiknya. Kitab suci menyatakan, “Ia tidak lupa memberi bukti-bukti tentang diri-Nya…” (Kisah Rasul-Rasul 14: 17).

Kedua, ‘advertensi khusus’. Jenis ini memiliki dua sumber: (1) tajassud (bersatunya Allah dengan Yesus, inkarnasi): dimana Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita secara jelas dan eksplisit lewat inkarnasi (tajassud) Kristus.

Di dalam Injil, Yohanes berkata: “Pada mulanya adalah ‘Firman’. Dan firman itu bersama Allah, dan firman itu adalah Allah. Firman sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita dan kita sudah melihat keagungan-Nya, seperti yang ada pada seseorang berasal dari seorang ayah, yang penuh dengan karunia dan kebenaran” (Yohanes 1: 1-15, rujuk Ibrani 1: 1-4 dan 1 Timotius 3: 3-5); (2) firman Allah yang termaktub dan pembenar atas – eksistensi – Nya yang berasal dari Kristus.

Yesus berkata: “Janganlah kalian menganggap bahwa Aku datang untuk menghapuskan hukum Musa dan ajaran nabi-nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskannya, tetapi untuk menyempurnakannya. Ingatlah! Selama langit dan bumi masih ada, satu huruf atau titik yang terkecil pun di dalam hukum itu, tidak akan dihapuskan, kalau semuanya belum terjadi.” (Matius 5: 17-18).

Itu lah dua bentuk ‘advertensi Tuhan’ kepada manusia menurut Nashrullah Zakariya, yang terdapat di dalam Taurat (Torah) dan Injil. Menurutnya, hal itu menyatakan bahwa Allah itu “esa” (wâhid). Tetapi, Allah juga tidak hanya ‘mengumumkan’ diri-Nya sebagai Tuhan yang esa (al-Ilah al-wahid), advertensi itu terjadi berulang-ulang dari dirinya hingga menjadi “trinitas” (tsâlûtsan).

Setelah menjelaskan itu, Nashrullah bingung dan menyatakan bahwa dogma “trinitas” dalam Kristen tidak bisa dianggap sebagai hasil studi filsafat atau konsep rasionalitas an sich. Karena hal itu menurutnya tidak mudah untuk diterima oleh akal. Sumber dogma ini menurutnya berasal dari Allah itu sendiri. Allah lah yang mengumumkan dirinya sebagai Tuhan yang memiliki tiga oknum: “trinitas” (tsâluts), bukan “trinisasi” (tatslîts). Dan dalam apologi kaum Nasrani dalam membela Allah yang trinitas itu (Allah al-tsâlûts) merupakan bukti keimanan mereka kepada Allah yang esa, seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri tentang diri-Nya lewat firman-firman-Nya: kitab suci.

Padahal, jika mencukupkan diri pada ayat Torah di atas, konsep Allah jelas dapat dipahami. Tapi ketika dikaitkan dengan dogma “trinitas” yang hanya ada dalam Perjanjian Baru (Injil) konsep Allah menjadi ‘kabur’.

Penulis lain, Nasyid Hana dalam “Khamsu Haqâ’iq ‘an Allah”, (cet. II, 1999) menulis bahwa ketika Allah menciptakan para malaikat, Dia mempraktekkan sebagian sifat-sifat-Nya. Dan ketika menciptakan manusia, Dia mempraktekkan sifat-sifatnya kepada manusia.

Bagaimana mungkin Allah butuh kepada makhluk-makhluk-Nya dan mempraktekkan sifat-sifatnya kepada diri-Nya?

Lebih aneh lagi, sebagaimana ditulis Nasyid Hana, “Oknum-oknum itu bukanlah bagian-bagian dalam diri Allah. Maha suci Allah. Allah tidak terdiri dari tiga oknum. Maha suci Allah, tetapi Allah itu esa, dan setiap oknum itu adalah Allah, bukan bagian dari Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Satu esensi tetapi tiga oknum.” Inilah konsep ketuhanan yang membingungan.

Membicarakan “oknum” saja dalam agama Kristen sudah berbelit-belit, karena memang sulit dinalar oleh akal sehat. Sampai sekarang, masalah “oknum Allah” ini masih terus dibahas dan diperdebatkan hingga kini.

Akibat kebingungan ini, banyak tokoh-tokoh Kristen menyikapi dogma “trinitas” lewat ekspresi rasa ‘ketidakpuasan. St. Anselm, misalnya, harus menulis Cur Deus Homo, St. Augustine juga menulis de Trinitate dan memproklamirkan slogan: “Credo ut intellegam” (aku percaya supaya aku bisa mengerti). Senada dengan Augustine, Tertullian menyatakan: “Credo quia absurdum” (aku beriman justru karena doktrin tersebut tidak masuk akal). Ini sangat kontra dengan Islam, dimana “rasio” sangat berperan dalam mengenal dzat Allah. Apa yang bertentangan dengan akal sehat, berarti ada yang “eror” dan harus dikritisi. 

Dalam Islam, Allah menciptakan makhluk-Nya agar mereka mengenal-Nya lewat nama-nama-Nya yang baik (al-asma’ al-husna), sifatnya yang transenden: yang memiliki sifat kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan.

Ketika mereka sudah mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya, mereka melakukan ibadah kepada-Nya, yang tidak berhak diberikan kepada selain-Nya dan tidak mendekati-Nya kecuali dengan ibadah tersebut. Mereka juga memuji Allah swt. sebagaimna mestinya, sesuai dengan kemuliaan dzat-Nya dan keagungan otoritas-Nya. Ini dengan detail dijelaskan oleh Allah swt.: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS: Al-Thalaq [65]: 12).

Kata agar kamu mengetahui merupakan dalil bahwa tujuan dari penciptaan alam ini, baik alam atas maupun bawah; adalah untuk mengetahui Allah swt. Lengkap dengan nama dan sifat-sifat-Nya; yang dalam ayat tersebut disebutkan sebagiannya, yakni: kekuasaan total (al-qudrah al-syamilah) dan ilmu yang meliputi segala sesuati (al-‘ilm al-muhith). (Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Fushûl fî al-‘Ibâdah bayna al-Salaf wa al-Khalaf, dalam serial Nahwa Wahdah Fikriyyah li al-‘Āmilîna li al-Islâm (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, 2005: 14).

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dalam konsep “Allah” dalam Yahudi, Kristen dan Islam. Dapat dibuktikan di dalam Al-Quran dan ulama-ulama klasik, bahwa Islam lah satu-satunya agama semit yang konsisten dalam melestarikan konsep “Allah”. Konsep Allah yang ‘nasionalistik’ adalah tidak benar dan harus ditolak. Dan konsep “Allah” yang ‘membutuhkan’ perantara (mediator) adalah mencederai kekuasaan dan keagungann-Nya. Maka, Islam menutup konsep “Allah” yang Mahasempurna dan tiada banding itu dengan firman Allah swt: “Laysa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, ) (Qs. Al-Syura [42]: 11). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. []

*) Penulis  alumnus Al-Azhar University (Cairo-Egypt) jurusan Tafsir & ‘Ulumu’l-Qur’an. Peminat Qur’anic & Hadith Studies dan Christology. Tulisan ini diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2007

(Sumber: http://www.hidayatullah.com)

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://rabbani.blogsome.com/2007/06/04/allah-dalam-islam-dan-kristen/trackback/

  1. Pembahasaan yang merupakan langkah awal dalam pembelajaran Adam sebagai manusia pertama (dalam persepsi ulama klasik) bersifat simbolik, hal ini ditegaskan dengan pemaknaan asma’. Pada ritme perjalanan selanjutnya, dikedepankan adanya siklus lazim yang akan dialami anak manusia karena Al-Qur’an juga melegitimasi akan terjadinya serak berai. Namun bila ditelaah ulang, ternyata nilai simbolik tersebut menciptakan pemaknaan ganda dan pengertian etis yang berbeda. Letak saja, pemaknaan Allah dalam Islam dan Kristen, cendrung satu wujud dan satu lafaz memilki dua pemaknaan, sehingga estimasi akhir dari makna tersebut sulit untuk disalahkan. kecendrungan untuk menjustifikasi dualistik makna sebaiknya didekati juga dengan dualistik pemahaman, bila hal ini didominasi oleh pemaknaan tunggal maka akan didapati perbandingan terbalik. bila didekati bahwa Allah dalam persepsi Islam merupakan Tuhan Yang Multi Maha, dan dalam sudut ini pula dinilai kekurangan Kristen, maka pada akhirnya Allah itu sendiri mengalami penyusutan gramatikal. Namun bila ditilik dari dua pemahaman seperti Allah dalam Islam dan Kristen yang merupakan Simbolik Unlimited maka yang didapati kesempurnaan Allah itu sendiri. Dalam spektrum teologi kristen sendiri, pemaknaan Tuhan harus lebur dalam individualistik manusia sebagai manifestasi keberadaan-Nya, hal ini juga senada dengan beragam aliran teosufi bid’i seperti Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi, bahkan Hasan Askari mengukir pemahaman yang menegaskan bahwa segala konsep tentang Tuhan hanya pada wujud Tunggal Maha dan memiliki dominasi berbeda dalam perbedaan manusia, atau bila didekati lebih maka didapati bahwa pada tingkat eksotoriklah perbedaan tersebut mencuat. Bila kita telaah kembali, oknum trinitas bukan bemakna memiliki tiga individualitas, bila kita kaji secara Islamipun kita akan mendapati paham nasuth dan lahutnya Tuhan, secara zati dan essensi (kaif dan kaun), bukankah individualistik ganda tidak dimiliki oleh Yang Maha dalam pengertia sederhana, namun dualistik itu bersifat absolut untuk dapat memancarkan nilai-nilainya dalam dominasi pra-sempurna manusia.

    Comment by fauzan — January 15, 2008 @ 8:18 am

  2. sangat menarik untuk di mengerti

    Comment by tefur — March 31, 2008 @ 8:31 am

  3. Memahami TRINITAS Allah pasti bingung, jangankan Islam Kristen pun bingung…, kenapa ? karena bagaimana mungkin seorang ciptaan memahami cara berfikir ciptaannya, sampai kapanpun juga tidak akan bisa. sebuah contoh : Manusia bisa mengetahui lewat ilmu penelitian tentang otak manusia, sel2nya, bahkan semua yang ada didalamnya, tapi pertanyaannya : dakah manusia seorang pun yang tahu bagaimana Tuhan menciptakan otak manusia?, ini hanya cntoh kecil saja, satu lagi : Manusia bisa mengetahui tentang bumi dan segala isinya dari A-Z…
    tetapi apakah manusia tahu bagaimana Tuhan menciptakannya bahkan bumu berputar mengelilingi matahari adakah seorang manusia bisa membuatnya…

    mencari kebenaran itu sampai kapan pun bahkan sampai orang yang mencari itu pun kembali kepada debu tidak akan dapat mendapat jawabannya…

    Jawabannya hanya bisa anda dapatkan ketika engkau benar-benar mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, logika dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah menemukannya, tetapi hanya hati yang tulus yang dapat menemukan itu,

    Jadi stoplah berdebat, kalo orang Kristen aja gak pusing kenapa orang Islam yang repot…
    Kacian deh lo…

    Carilah keselamatanmu…
    Pikirkan dari sekarang suatu saat anda meninggalkan dunia ini anda menuju kemana, Sorga atau neraka…………..?

    Comment by Irvan — September 4, 2008 @ 5:44 pm

  4. Memahami TRINITAS Allah pasti bingung, jangankan Islam Kristen pun bingung…, kenapa ? karena bagaimana mungkin seorang ciptaan memahami cara berfikir Penciptanya, sampai kapanpun juga tidak akan bisa. sebuah contoh : Manusia bisa mengetahui lewat ilmu penelitian tentang otak manusia, sel2nya, bahkan semua yang ada didalamnya, tapi pertanyaannya : dakah manusia seorang pun yang tahu bagaimana Tuhan menciptakan otak manusia?, ini hanya cntoh kecil saja, satu lagi : Manusia bisa mengetahui tentang bumi dan segala isinya dari A-Z…
    tetapi apakah manusia tahu bagaimana Tuhan menciptakannya bahkan bumu berputar mengelilingi matahari adakah seorang manusia bisa membuatnya…

    mencari kebenaran itu sampai kapan pun bahkan sampai orang yang mencari itu pun kembali kepada debu tidak akan dapat mendapat jawabannya…

    Jawabannya hanya bisa anda dapatkan ketika engkau benar-benar mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, logika dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah menemukannya, tetapi hanya hati yang tulus yang dapat menemukan itu,

    Jadi stoplah berdebat, kalo orang Kristen aja gak pusing kenapa orang Islam yang repot…
    Kacian deh lo…

    Carilah keselamatanmu…
    Pikirkan dari sekarang suatu saat anda meninggalkan dunia ini anda menuju kemana, Sorga atau neraka…………..?

    Edittt……………..

    Comment by Irvan — September 4, 2008 @ 5:47 pm

  5. gua sering nonton acara natal Vatikan lewat TV dan ternyata………..Paus gak pernah menyebut nama “Allah”. Biasanya Paus menyebut Deo, Dieu (bahasa perancis:Tuhan), God(Bahasa Ingris:Tuhan). Umat sini aja yang belom ngerti, agamanya beda kok berusaha dibuat mirip2 hi hi hi…

    coba liat Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Third Edition 2003
    Allah : name of God among muslims.
    God : the maker and ruler of the universe, being is believed to have power over nature or to present a particular quality, person or thing that is greatly admired or loved.

    Comment by karel — November 30, 2008 @ 6:35 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

    

Hadith of the day:

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King